Di ladang itu aku
merebah jiwa yang letih kan dunia hampa ini, melepas jubah kepenatan yang
menyelimuti tubuhku yang hanya dibungkus dengan selembar kulit berwarna
kecoklatan menandakan kerasnya kerikil yang tlah dilalui ruang waktu. Kunikmati
nyanyian angin yang menyelusup daun telingaku, dengan melodi kerinduan yang
berirama bersama tutur kebijakan tentang dunia fana. Oh.....betapa indahnya
hidup dalam buaian kepalsuan dan ketenangan yang terangkul dalam topeng sang
aktor alam.
Berselang waktu beranjak,
melodi kerinduan mulai menuai isak tangis yang menusuki kepalaku, ada sesuatu
yang menorehkan kepedihan dan pengkhianatan. Kupandangi sekeliling, dan mataku
melihat sosok anggun terkulai tak berdaya. Terketuk pintu qalbu menaruh haru
yang menderu, memaksa jiwaku beridiri mendekapnya. Ia memakai gaun merah muda
bak ratu yang di buang rakyatnya, harum pesona keanggunannya menyebar dalam
pikiran kelelakianku. Kulangkahkan kaki mendekat padanya, lalu aku mulai
melontarkan tutur kata, “duhai dikau bunga yang anggun, gerangan apa yang dikau
curahkan hingga wajah anggun terkulai layu dalam tetesan duka?”, namun sosok
anggun itu hanya mendekap isak tangisnya yang larut dalam buaian air mata.
Ku lontarkan
kembali kata demi kata yang membelit pikiranku.
“Wahai dikau
sosok yang anggun, lihatlah rumput di bawahmu itu, apakah dikau tak ibah
padanya terhadap tetesan lukamu yang menimpanya?”
“Lihatlah di atas
wahai sosok yang anggun, apakah dikau tak merasa malu mendengar tawa sang awan
yang mencomoohkan perihmu?”
“Apa yang kau
tautkan dalam tetes air matamu itu duhai sosok yang anggun?”
“Bolehkah daku
menyingkap kepedihan yang dibalut dengan wajah anggun nan semerbak wewangian
yang menggelantungi di jiwamu?”
Tapi, mulut tipis
yang terbalut dengan lapis pelangi senja itu masih tetap membungkam. Aku
bertanya pada diriku sendiri tentang kepedihan yang membalut sosok anggun
tersebut. Resah bercampur iba menggelantungi pikiranku. Tidak lam kemudian
bibir mungil yang terbalut pelangi itu mulai membuka, ia berkata “apakah bunga
diciptakan untuk kumbang?”
“Apakah sang kumbang benar diciptakan untuk bunga?”
“Apakah bunga
dilahirkan untuk dihisap sang kumbang?”
“Apakah kumbang
dilahirkan untuk menghisap bunga?”
“Apakah bunga
dimekarkan untuk digoda dan dicampakkan sang kumbang?”
“Apakah kumbang
diterbangkan untuk menggoda dan mencampakkan bunga?”
“Apakah bunga
harus layu setelah sang kumbang dapatkan madu?”
“Apakah kumbang
harus ingkar setelah bunga tak lagi mekar?”
Jiwaku terdiam
membatu, pikiranku seakan tidak mempunyai jalan untuk pulang ke pangkuannya.
Yang terucap hanyalah binar mata yang mengetuk qalbu yang paling dalam. Aku
tahu apa yang membaluti tetes air matanya itu, dan ia tahu apa yang menyelimuti
tutur kataku. Aku merasakan kepedihan itu, kepedihan yang ditinggalkan sebagai
bekal kehidupan, kepedihan yang menyisakan tetes air yang keluar melewati
sehelai sayatan belati, kepedihan yang merobohkan naluri keanggunan sekuntum
bunga.
Tiba-tiba mentari
diselimuti kegelapan menyapa dengan tangisan alam, ia hendak berkata bahwa ia
akan membasuh duka yang telah menyelubungi jiwanya yang anggun dan menempatkan
kembali pada kekasihnya, sampai pada waktu yang kan memetik aroma keanggunan,
keanggunan yang membuai lembut jiwa yang sepi.