Halaman rumah yang bertuliskan cerita kepahitan
kita, pondok yang menyimpan kesakitan kita, langit yang melukiskan senyuman kita, hujan yang menuai
tangisan kita, dan sebuah wajah yang tersembunyi di balik tanah yang merindukan kita.
Ingatkah kau ketika mendatangkan rintik hujan dari langit, ketika itu usiaku masih mengenal pembagian dari
sederatan jumlah ekor bebek. Tubuhku kecil, kurus, bermuka hitam, dan badanku
agak sedikit membungkuk. Saat itu aku hanya berteman dengan wanita yang
melahirkan ibunda tercinta yang berkulit keriput, bermuka kusam, bertubuh
menunuduk menunjukkan betapa ia menghargai kehidupan ini. Walaupun demikian
begitu, aku menyayanginya. Aku berdiri di jendala rumah, meratapi hujan yang
berjatuhan menimpa rumput yang berdiri di halaman. Derai hujan membawaku kepada seseorang yang jauh dikala itu. Seseorang yang sangat
kucintai sampai desahan nafas terakhirku. Aku terbawa arus yang deras hingga hatiku tenggelam dalam riak hujan yang menggoresi tiap
bilik-biliknya.
Aku bertanya pada setiap rintik hujan yang jatuh di depanku, “duhai kau rintik
hujan, dapatkah kau membawa daku kedalam pelukannya?
Daku ingin sekali melihat senyumnya, daku ingin sekali memegang tangannya yang
kasar karena tergores oleh susuap nasi untukku, daku ingin sekali mendekapnya,
merasakan kehangatan jiwanya yang membara meleburkan kedinginan dan kehampaan
daku, daku ingin sekali mengecup keningnya yang terus memikirkan kehidupan daku!
Apakah kau bersedia duhai rintik hujan?.” Berulang kali aku bertanya kepada rintik hujan, namu tak ada satupun yang menggubris apa yang ku tuturkan, yang
kudapatkan hanyalah kesepian dan kehampaan. Aku kecewa kepada rintik hujan yang tak mampu dan tak menghargai setiap tutur kata yang ku lontarkan,
padahal aku berharap betul rintik hujan kan membawaku melihat senyumnya. Ku angkat
kepala dan mataku ke atas, dan hanyalah gumpalan
awan hitam yang nampak dimataku
beserta rintik hujan. Hatiku berujar, tidak mungkin awan
hitam kan menjawab dan mengabulkan permohonanku,
karena rintik hujan pun tak mau mendengarkanku, apalagi awan
hitam. Ku tarik kembali mataku sembari melototi di
sekeliling, namun tak ada satu orang pun yang menampakkan mukanya karena
mungkin takut akan terkena hujaman rintik
hujan. Dan matakupun kembali menunduk kebawah melihati
rintik hujan yang jatuh menimpa tubuh dedaunan. Aku berpikir, mungkinkah dedaunan mampu membawaku ke pelukannya, ah. . . tidak mungkin dedaunan mampu membawaku, sedangkan saja ia tak pernah melangkahkan kakinya. Aku
kecewa terhadap apa yang ada di hadapanku di kala itu. Yang kudapatkan hanyalah
jawaban diam dari semuanya.
Tidak lama kemudian rintik hujan mulai melepaskan sayapnya satu-persatu. Ia mulai melangkahkan kakinya
menuju sungai dan berjalan ke laut lepas hingga sayapnya tumbuh dan kembali lagi
terbang menjadi gumpalan awan hitam hingga terjatuh kembali di atas halamanku. Aku
masih menatapi halamanku. Rerumputan nampak menghijau bak dijilati anjing kelaparan, dedaunan mulai menari-nari mengikuti alunan musik yang dimainkan angin. Bunga yang tadinya layu karena siksaan sang mentari sudah mampu berdiri dengan
keangkuhannya menebarkan pesona dan semerbak keharuman yang menyelimuti seluruh
tubuhnya. Mentari yang tadinya ikut bersembunyi mulai menampakkan
wajahnya yang berseri-seri kegirangan karena awan
hitam beserta rintik
hujan telah pergi. Dan riuh burung mulai mengiringi alunan musik alam, membuat kegaduhan yang mendayu
menempeli hatiku yang tergoreskan karena rintik
hujan.
Oh tuhan, alangkah indah dunia ini. Andaikan ia
berada disampingku. Betapa aku kan menikmati keindahan yang kau perankan lewat
aktor-aktor alamMu.
Berbinar mataku, sehingga seekor semut mampu melihat dirinya yang mungil itu tersesat dalam kesendirian. Hatiku
merasakan kepiluan yang mendalam, pilu yang merengkul kesepian, pilu yang
menghadirkan rintik hujan dimataku, pilu yang mendawai dalam anganku.
Aku
kan tetap menunggu engkau duhai rintik hujan,
aku masih memiliki harapan bagimu. Bersama rerumputan
yang mengering, daku kan menantimu. Bersama bunga
yang layu, daku kan mengharapmu. Bersama dedaunan
yang semakin merunduk, daku menaruh impian. Bersama riuh angin
yang terus mencari tempat berteduh, daku kan mencarimu. Bersama kicau burung
yang meluluhlantakkan kesepian, daku kan bertutur padamu. Dan bersama mentari
dari fajar merekah hingga berganti sang dewi malam
yang menghadirkan gelap gulita yang menyelimuti pondokku,
daku kan tetap disini. Sampai jumpa duhai kau sahabat kerinduanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar