Jumat, 23 Desember 2011

PENANTIAN DI UJUNG SUBUH


Jiwaku terbaring menatap awan putih yang berarak-arakan mengiringi mereka yang berjalan di tanah yang bernyawa. Di atas rumput yang sedari tadi menahan punggung dan pundakku yang hendak berdiri di atasnya, mataku dipaksa melihat apa yang terjadi di atas sana. Ku perhatikan satu-persatu awan yang berjalan mengiringi pengantin di atas sana, dan tak ada satu pun dari mereka yang menghardikku. Anak-anak angin pun tak ingin ketinggalan. Mereka berlari berkeliaran di antara jiwa-jiwa yang mengambang antara kehampaan dan kebisingan.
Lama diriku terbaring di sini, hingga tanganku tak terasa lagi akan sentuhanNya. Mataku menggeliat tak karuan, dan ia bebas berkeliaran di antara pikiran dan anganku. Dan seketika pikiranku terhenti pada suatu pondok yang usianya hampir keriput seperti pemiliknya. Mataku tertuju pada anak kecil yang duduk di depan jendela gubuk itu yang sedang menatap tetes hujan yang berjatuhan menusuki tanah yang tak berkutik. Entah apa yang menyelimuti angannya, yang jelas anak itu memeliki suatu beban yang menggantungi nalarnya. Dan saya tahu persis hari-harinya selalu diliputi dengan keburaman. Di waktu itu ia hanya berteman dengan perempuan yang renta, yang menjadi pelipur lara dikala ia meringkik, menjadi sang penghapus dahaga dikala ia merindu kasih, menjadi penerang dikala ia tersesat dalam lubang kehampaan.
Anak kecil itu sudah beberapa bulan di tinggal oleh ke dua orang tuanya yang pergi ke kota untuk menyembuhkan penyakit yang mendera ayahnya. Ayahnya memiliki penyakit yang belum di ketahui, tapi menurut doktor ayahnya terkena radang paru-paru. Namun, lain lagi yang di katakan oleh beberapa dukun, ayahnya dikatakan telah diteluh oleh seseorang yang memang sudah bermasalah dengan ayahnya.
Anak itu bermata sipit, memiliki hidung yang menjulang tinggi membelah awan hitam, bibir yang tak begitu lebar dengan dagu yang terbelah, pipi yang sedikit memperlihatkan ketajamannya terhadap kehidupan, dan alis yang begitu menyeruat hingga semut pun dapat terseset jika menelusurnya. Bertubuh kecil, berkulit hitam yang menyelimuti seluruh jiwanya, dengan sedikit daging yang menempel dari tulang yang kelihatan kerakusannya.
Saya kembali menatap langit yang menghadirkan subuh yang hendak merekah dari kuncupnya. Laki-laki kecil dan wanita renta itu sedang menikmati alam mimpi pada sebuah kamar yang tak begitu luas dan sedikit nyaman untuk seukuran pondok yang sudah keriput. Didalam kamar terdapat kasur kapuk dan bantal guling yang berlukiskan wajah kepenatan hari. Tiba-tiba, samar-samar terdengar pada telinga laki-laki keci itu seseorang yang memanggil wanita tua yang berada di sampingnya. Namun, karena terbawa arus mimpi, laki-laki kecil itu tidak begitu menggubris apa yang di tangkap telinganya. Sesaat wanita tua renta itu membuka matanya dan segera berangkat dari kasur yang menghangatkan tubuhnya yang sudah goyah. Dengan gontainya ia berdiri merangkak dari kasur menuju suara yang di tangkap telinganya. Treeeeeeeetttttt.................... terdengar suara pintu di buka. Dan ketika itu..........
Mataku berembun, dan tidak lama kemudian embun itu merekah dan melahirkan tetes embun yang begitu pelannya mengalir disetiap jengkal pipiku yang tajam. Bibirku pun tak dapat menahannya. Yang ku rasa hanyalah hampa, kesendirian, kepengapan hidup, dan penantian yang berujung duka.
Angin terhenti, subuh terasa panjang, kedinginan menyelimuti qalbu, embun pagi tlah berjatuhan, dan mentari tak kan dapat menghangatkan lagi. Terasa sekali berjuta-juta jarum menusuki hati yang kecil. Apa yang di inginkaNya? Nafasku tak mampu lagi bergerak mengaliri tubuhku.
Subuh ini memanggilku dengan kebengisannya. Menundukkan dedaunan yang sedari dulu berdiri tegak. Kuharap mentari tak kan lahir, dan aku takkan berhenti menuangkan anggur yang telah kau teteskan.
Kakiku melangkah sendiri, tak ada angin yang mengiringi, mereka menjauh dariku. Aku terhenyak ketika wanita tua itu bertutur padaku. Oh tuhan, aku ingin mendekapnya sekali lagi, aku ingin melihat senyumnya, aku ingin melihat matanya, aku ingin mengecup keningnya, aku ingin ia selalu membacakan dongeng untukku.
Tuhan, sanggupkah kakiku melangkah, sanggupkah diriku bertemu dengannya, sanggupkah aku mengulurkan tanganku untuknya.
Kini, tak kan ada lagi senyummu, tak kan ada lagi dongengmu, tak kan ada lagi jiwa yang menerangi langkahku. Syair kematianmu kan bersemayam dalam qalbuku, dan qalbuku kan melantunkan tuturmu yang gentayangan dalam asaku.
Wanita renta itu bertutur dengan lantang yang melahirkan tetesan embun yang merekah dari cahaya yang redup, dan anak kecil itu hanya mampu terdiam, diam yang menyimpan sejuta kata yang hendak menyeruak membelah belantara jiwanya yang bergemuruh bak badai yang menerjang tubuhnya yang mungil itu.
“Ayahmu tlah meninggal”.................
Penantianku sirna. Dalam embun pagi diriku mendekap sekuntum tangis. Aku menunggu pelangi itu mekar dari badai, tapi yang ada hanyalah gulungan ombak dari samudra yang menghantam dan menerjang tubuh yang mungil. Ku sadari pelangi itu tak kan dapat ku lihat kembali, karna badai telah mengambil semuanya. Tak ada yang tersisa, terkucuali qalbu yang mengecut, mengering, dan pecah berhamburan di atas subuh yang memudar. Tanganku tak mampu meraih puing-puing qalbukku yang terhempas, kakiku tak mampu berdiri tegar menghadang hempasan angin, dan mataku tak mampu menahan kepedihan yang mendalam.
Tersentak jiwaku dalam buaian nirwana, dan mentari yang menyerang mataku dengan sinarnya membuatku tersadar bahwa dunia kita telah berbeda. Aku kembali dalam duniaku, dan engkau, pelangiku, tetaplah dalam jiwa yang merindumu.
Ayah, embun di subuh merekah kan mekar kembali, dan genggamlah mentari yang kan bersinar. Kaki ini kan terus melangkah mengiringi nisanmu yang mengering, melalui dedaunan yang jatuh pada pusarmu, aku kan mengirim do’aku untukmu. Dampingilah aku dalam buaian tidurmu, maka kan kau tunjukkan diriku jalan menuju pintumu.

By Aang Adyta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar