Minggu, 01 Januari 2012

Rintik Hujan di Halamanku


Halaman rumah yang bertuliskan cerita kepahitan kita, pondok yang menyimpan kesakitan kita, langit yang melukiskan senyuman kita, hujan yang menuai tangisan kita, dan sebuah wajah yang tersembunyi di balik tanah yang merindukan kita.
Ingatkah kau ketika mendatangkan rintik hujan dari langit, ketika itu usiaku masih mengenal pembagian dari sederatan jumlah ekor bebek. Tubuhku kecil, kurus, bermuka hitam, dan badanku agak sedikit membungkuk. Saat itu aku hanya berteman dengan wanita yang melahirkan ibunda tercinta yang berkulit keriput, bermuka kusam, bertubuh menunuduk menunjukkan betapa ia menghargai kehidupan ini. Walaupun demikian begitu, aku menyayanginya. Aku berdiri di jendala rumah, meratapi hujan yang berjatuhan menimpa rumput yang berdiri di halaman. Derai hujan membawaku kepada seseorang yang jauh dikala itu. Seseorang yang sangat kucintai sampai desahan nafas terakhirku. Aku terbawa arus yang deras hingga hatiku tenggelam dalam riak hujan yang menggoresi tiap bilik-biliknya.
Aku bertanya pada setiap rintik hujan yang jatuh di depanku, “duhai kau rintik hujan, dapatkah kau membawa daku kedalam pelukannya? Daku ingin sekali melihat senyumnya, daku ingin sekali memegang tangannya yang kasar karena tergores oleh susuap nasi untukku, daku ingin sekali mendekapnya, merasakan kehangatan jiwanya yang membara meleburkan kedinginan dan kehampaan daku, daku ingin sekali mengecup keningnya yang terus memikirkan kehidupan daku! Apakah kau bersedia duhai rintik hujan?.” Berulang kali aku bertanya kepada rintik hujan, namu tak ada satupun yang menggubris apa yang ku tuturkan, yang kudapatkan hanyalah kesepian dan kehampaan. Aku kecewa kepada rintik hujan yang tak mampu dan tak menghargai setiap tutur kata yang ku lontarkan, padahal aku berharap betul rintik hujan kan membawaku melihat senyumnya. Ku angkat kepala dan mataku ke atas, dan hanyalah gumpalan awan hitam yang nampak dimataku beserta rintik hujan. Hatiku berujar, tidak mungkin awan hitam kan menjawab dan mengabulkan permohonanku, karena rintik hujan pun tak mau mendengarkanku, apalagi awan hitam. Ku tarik kembali mataku sembari melototi di sekeliling, namun tak ada satu orang pun yang menampakkan mukanya karena mungkin takut akan terkena hujaman rintik hujan. Dan matakupun kembali menunduk kebawah melihati rintik hujan yang jatuh menimpa tubuh dedaunan. Aku berpikir, mungkinkah dedaunan mampu membawaku ke pelukannya, ah. . . tidak mungkin dedaunan mampu membawaku, sedangkan saja ia tak pernah melangkahkan kakinya. Aku kecewa terhadap apa yang ada di hadapanku di kala itu. Yang kudapatkan hanyalah jawaban diam dari semuanya.
Tidak lama kemudian rintik hujan mulai melepaskan sayapnya satu-persatu. Ia mulai melangkahkan kakinya menuju sungai dan berjalan ke laut lepas hingga sayapnya tumbuh dan kembali lagi terbang menjadi gumpalan awan hitam hingga terjatuh kembali di atas halamanku. Aku masih menatapi halamanku. Rerumputan nampak menghijau bak dijilati anjing kelaparan, dedaunan mulai menari-nari mengikuti alunan musik yang dimainkan angin. Bunga yang tadinya layu karena siksaan sang mentari sudah mampu berdiri dengan keangkuhannya menebarkan pesona dan semerbak keharuman yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Mentari yang tadinya ikut bersembunyi mulai menampakkan wajahnya yang berseri-seri kegirangan karena awan hitam beserta rintik hujan telah pergi. Dan riuh burung mulai mengiringi alunan musik alam, membuat kegaduhan yang mendayu menempeli hatiku yang tergoreskan karena rintik hujan.
Oh tuhan, alangkah indah dunia ini. Andaikan ia berada disampingku. Betapa aku kan menikmati keindahan yang kau perankan lewat aktor-aktor alamMu.
Berbinar mataku, sehingga seekor semut mampu melihat dirinya yang mungil itu tersesat dalam kesendirian. Hatiku merasakan kepiluan yang mendalam, pilu yang merengkul kesepian, pilu yang menghadirkan rintik hujan dimataku, pilu yang mendawai dalam anganku.
Aku kan tetap menunggu engkau duhai rintik hujan, aku masih memiliki harapan bagimu. Bersama rerumputan yang mengering, daku kan menantimu. Bersama bunga yang layu, daku kan mengharapmu. Bersama dedaunan yang semakin merunduk, daku menaruh impian. Bersama riuh angin yang terus mencari tempat berteduh, daku kan mencarimu. Bersama kicau burung yang meluluhlantakkan kesepian, daku kan bertutur padamu. Dan bersama mentari dari fajar merekah hingga berganti sang dewi malam yang menghadirkan gelap gulita yang menyelimuti pondokku, daku kan tetap disini. Sampai jumpa duhai kau sahabat kerinduanku.