Jiwaku
terbaring menatap awan putih yang berarak-arakan mengiringi mereka yang
berjalan di tanah yang bernyawa. Di atas rumput yang sedari tadi menahan
punggung dan pundakku yang hendak berdiri di atasnya, mataku dipaksa melihat
apa yang terjadi di atas sana. Ku perhatikan satu-persatu awan yang berjalan mengiringi
pengantin di atas sana, dan tak ada satu pun dari mereka yang menghardikku.
Anak-anak angin pun tak ingin ketinggalan. Mereka berlari berkeliaran di antara
jiwa-jiwa yang mengambang antara kehampaan dan kebisingan.
Lama
diriku terbaring di sini, hingga tanganku tak terasa lagi akan sentuhanNya.
Mataku menggeliat tak karuan, dan ia bebas berkeliaran di antara pikiran dan
anganku. Dan seketika pikiranku terhenti pada suatu pondok yang usianya hampir
keriput seperti pemiliknya. Mataku tertuju pada anak kecil yang duduk di depan
jendela gubuk itu yang sedang menatap tetes hujan yang berjatuhan menusuki
tanah yang tak berkutik. Entah apa yang menyelimuti angannya, yang jelas anak
itu memeliki suatu beban yang menggantungi nalarnya. Dan saya tahu persis
hari-harinya selalu diliputi dengan keburaman. Di waktu itu ia hanya berteman
dengan perempuan yang renta, yang menjadi pelipur lara dikala ia meringkik,
menjadi sang penghapus dahaga dikala ia merindu kasih, menjadi penerang dikala
ia tersesat dalam lubang kehampaan.
Anak
kecil itu sudah beberapa bulan di tinggal oleh ke dua orang tuanya yang pergi
ke kota untuk menyembuhkan penyakit yang mendera ayahnya. Ayahnya memiliki
penyakit yang belum di ketahui, tapi menurut doktor ayahnya terkena radang
paru-paru. Namun, lain lagi yang di katakan oleh beberapa dukun, ayahnya
dikatakan telah diteluh oleh seseorang yang memang sudah bermasalah dengan
ayahnya.
Anak
itu bermata sipit, memiliki hidung yang menjulang tinggi membelah awan hitam,
bibir yang tak begitu lebar dengan dagu yang terbelah, pipi yang sedikit
memperlihatkan ketajamannya terhadap kehidupan, dan alis yang begitu menyeruat
hingga semut pun dapat terseset jika menelusurnya. Bertubuh kecil, berkulit
hitam yang menyelimuti seluruh jiwanya, dengan sedikit daging yang menempel
dari tulang yang kelihatan kerakusannya.
Saya
kembali menatap langit yang menghadirkan subuh yang hendak merekah dari
kuncupnya. Laki-laki kecil dan wanita renta itu sedang menikmati alam mimpi
pada sebuah kamar yang tak begitu luas dan sedikit nyaman untuk seukuran pondok
yang sudah keriput. Didalam kamar terdapat kasur kapuk dan bantal guling yang berlukiskan
wajah kepenatan hari. Tiba-tiba, samar-samar terdengar pada telinga laki-laki
keci itu seseorang yang memanggil wanita tua yang berada di sampingnya. Namun,
karena terbawa arus mimpi, laki-laki kecil itu tidak begitu menggubris apa yang
di tangkap telinganya. Sesaat wanita tua renta itu membuka matanya dan segera
berangkat dari kasur yang menghangatkan tubuhnya yang sudah goyah. Dengan
gontainya ia berdiri merangkak dari kasur menuju suara yang di tangkap
telinganya. Treeeeeeeetttttt.................... terdengar suara pintu di buka.
Dan ketika itu..........
Mataku
berembun, dan tidak lama kemudian embun itu merekah dan melahirkan tetes embun
yang begitu pelannya mengalir disetiap jengkal pipiku yang tajam. Bibirku pun
tak dapat menahannya. Yang ku rasa hanyalah hampa, kesendirian, kepengapan
hidup, dan penantian yang berujung duka.
Angin
terhenti, subuh terasa panjang, kedinginan menyelimuti qalbu, embun pagi tlah
berjatuhan, dan mentari tak kan dapat menghangatkan lagi. Terasa sekali
berjuta-juta jarum menusuki hati yang kecil. Apa yang di inginkaNya? Nafasku
tak mampu lagi bergerak mengaliri tubuhku.
Subuh
ini memanggilku dengan kebengisannya. Menundukkan dedaunan yang sedari dulu
berdiri tegak. Kuharap mentari tak kan lahir, dan aku takkan berhenti
menuangkan anggur yang telah kau teteskan.
Kakiku
melangkah sendiri, tak ada angin yang mengiringi, mereka menjauh dariku. Aku terhenyak
ketika wanita tua itu bertutur padaku. Oh tuhan, aku ingin mendekapnya sekali
lagi, aku ingin melihat senyumnya, aku ingin melihat matanya, aku ingin
mengecup keningnya, aku ingin ia selalu membacakan dongeng untukku.
Tuhan,
sanggupkah kakiku melangkah, sanggupkah diriku bertemu dengannya, sanggupkah
aku mengulurkan tanganku untuknya.
Kini,
tak kan ada lagi senyummu, tak kan ada lagi dongengmu, tak kan ada lagi jiwa
yang menerangi langkahku. Syair kematianmu kan bersemayam dalam qalbuku, dan
qalbuku kan melantunkan tuturmu yang gentayangan dalam asaku.
Wanita
renta itu bertutur dengan lantang yang melahirkan tetesan embun yang merekah
dari cahaya yang redup, dan anak kecil itu hanya mampu terdiam, diam yang
menyimpan sejuta kata yang hendak menyeruak membelah belantara jiwanya yang
bergemuruh bak badai yang menerjang tubuhnya yang mungil itu.
“Ayahmu
tlah meninggal”.................
Penantianku
sirna. Dalam embun pagi diriku mendekap sekuntum tangis. Aku menunggu pelangi
itu mekar dari badai, tapi yang ada hanyalah gulungan ombak dari samudra yang
menghantam dan menerjang tubuh yang mungil. Ku sadari pelangi itu tak kan dapat
ku lihat kembali, karna badai telah mengambil semuanya. Tak ada yang tersisa,
terkucuali qalbu yang mengecut, mengering, dan pecah berhamburan di atas subuh
yang memudar. Tanganku tak mampu meraih puing-puing qalbukku yang terhempas,
kakiku tak mampu berdiri tegar menghadang hempasan angin, dan mataku tak mampu
menahan kepedihan yang mendalam.
Tersentak
jiwaku dalam buaian nirwana, dan mentari yang menyerang mataku dengan sinarnya
membuatku tersadar bahwa dunia kita telah berbeda. Aku kembali dalam duniaku,
dan engkau, pelangiku, tetaplah dalam jiwa yang merindumu.
Ayah,
embun di subuh merekah kan mekar kembali, dan genggamlah mentari yang kan
bersinar. Kaki ini kan terus melangkah mengiringi nisanmu yang mengering,
melalui dedaunan yang jatuh pada pusarmu, aku kan mengirim do’aku untukmu.
Dampingilah aku dalam buaian tidurmu, maka kan kau tunjukkan diriku jalan
menuju pintumu.
By Aang Adyta